<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Tghnul's Blog</title>
	<atom:link href="http://tghnul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tghnul.wordpress.com</link>
	<description>"Jadilah Yang Terbaik Dari Yang Lebih Baik"</description>
	<lastBuildDate>Fri, 19 Dec 2008 07:35:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='tghnul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Tghnul's Blog</title>
		<link>http://tghnul.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://tghnul.wordpress.com/osd.xml" title="Tghnul&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://tghnul.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MIKROALGAE</title>
		<link>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/19/10/</link>
		<comments>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/19/10/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 07:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tghnul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mikroalga]]></category>
		<category><![CDATA[Perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[Mikroalgae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tghnul.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Klasifikasi Mikroalgae Sel mikroalgae dapat dibagi menjadi 10 divisi dan 8 divisi algae merupakan bentuk unicellulair. Dari 8 divisi algae, 6 divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. Setiap divisi mempunyai karakteristik yang ikut memberikan andil pada kelompoknya, tetapi spesies-spesiesnya cukup memberikan perbedaan-perbedaan dari lainnya. Ada 4 karakteristik yang digunakan untuk membedakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tghnul.wordpress.com&amp;blog=5854880&amp;post=10&amp;subd=tghnul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="styleheading2latintahoma"><span lang="FR"><span id="more-10"></span>Klasifikasi Mikroalgae</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FR">Sel mikroalgae dapat dibagi menjadi 10 divisi dan 8 divisi algae merupakan bentuk unicellulair. Dari 8 divisi algae, 6 divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. Setiap divisi mempunyai karakteristik yang ikut memberikan andil pada kelompoknya, tetapi spesies-spesiesnya cukup memberikan perbedaan-perbedaan dari lainnya. Ada 4 karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikro algae yaitu ; tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe komponen fotosintesa, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni / filamen adalah merupakan informasi penting didalam membedakan masing-masing group.</span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sifat yang paling berguna untuk mengidentifikasi algae adalah warna atau pigmen mereka. Pigmen-pigmen tersebut menyerap energi cahaya dan mengubahnya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis. Ada 3 kelas utama pigmen dan berbagai kombinasi yang memberikan warna khas pada algae. Kelompok utama dari pigmen hijau adalah chlorophil, dengan clorophil <em>a</em> sebagai pigmen utama yang menyerap gelombang panjang biru dan merah sebagai cahaya yang penting untuk fotosintesis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebagian besar carotenoid lebih bersifat melindungi pigmen lain daripada ikut secara langsung dalam reaksi fotosintesis. Dalam setiap difisi, terdapat pengecualian seperti fukosantin pada diatome dan alga coklat, yang sangat aktif dalam proses fotosintesa. Fikobilin berwarna merah (fikoeretrin) atau biru (fikocyanin) dan menangkap gelombang panjang yang tidak ditangkap oleh pigmen-pigmen lainnya dan melewati energi yang ditangkap pada clrophil <em>a</em> untuk fotosintesis. Beberapa variasi dari bentuk sel dapat ditemukan pada alga unicellular dapat berbentuk bola pipih memanjang atau berbentuk kotak sebagai tambahan beberapa unicellular memiliki lengan atau duri yang merupakan perluasan dari dinding sel. Banyak mikroalgae yang membentuk filamen-filamen sel yang menghubungkan satu sama lain .Mikroalgae lainnya membentuk koloni-koloni sel yang memiliki suatu pola yang khusus dan ditentukan oleh jumlah sel Kondisi kultur akan menentukan morfologi suatu organisme dan variasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kunci identifikasi mikroalgae untuk menentukan hingga pada tingkat genus dan spesies dapat dilihat dalam buku Prescott (1970), Dawes (1981), Bold and Wynne (1985).</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span><span lang="SV">I. a.b. Jenis organisme yang termasuk Mikroalga beserta bentuknya.</span></span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span>Cyanobacteria </span></em></strong><strong><span>atau alga biru hijau</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Cyanobacteria </span></em><span>atau alga biru hijau adalah kelompok alga yang paling primitif dan memiliki sifat-sifat bakterial dan alga. Kelompok ini adalah organisme prokariotik yang tidak memiliki struktur-struktur sel seperti yang ada pada alga lainnya, contohnya nukleus dan chloroplast. Mereka hanya memiliki chlorophil <em>a</em>, namun mereka juga memiliki variasi phycobilin seperti halnya carotenoid. Pigmen-pigmen ini memiliki beragam variasi sehingga warnanya bisa bermacam-macam dari mulai hijau sampai ungu bahkan merah. Alga biru hijau tidak pernah memiliki flagell, namun beberapa filamen membuat mereka bergerak ketika berhubungan dengan permukaan. Unicell, koloni, dan flamen-filamen cyanobacteria adalah kelompok yang umum dalam budidaya, baik sebagai makan maupun sebagai organisme pengganggu. Dibawah ini adalah 3 kelompok yang paling umum dalam lingkungan budidaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Spirulina </span></strong><span>(air tawar, air laut) filamennya berukuran lebar 5 -6 </span><span>m</span><span>m dan panjang 20-200 </span><span>m</span><span>m berbentuk spiral. Dapat berwarna biru-hijau atau merah. </span><span lang="SV">Spirulina merupakan bahan penyusun dalam banyak pellet ikan dan pakan invertebrata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Oscillatoria </span></strong><span>(Air tawar, air laut,) filamennya berukuran lebar 2-20 </span><span>m</span><span>m dan panjang 10-200 </span><span>m</span><span>m, tergantung pada spesiesnya. </span><span lang="SV">Bentuknya dapat berbentuk lurus, bengkok, berbentuk kurva, atau lingkaran tidak teratur. Dia bergerak dengan cara meluncur dengan lambat dan dapat menempel atau mengapung, tapi tidak merupakan perenang bebas. Dia dapat terlihat berwarna hijau, biru-hijau, ungu, atau merah.Oscilatoria biasanya bersifat merugikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Anabaena </span></strong><span lang="SV">(Air tawar, air laut,) filamennya berukuran lebar 3-10 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan panjang 10-200 </span><span>m</span><span lang="SV">m, berbentuk lurus, bengkok, atau hampir menggulung. Selnya berbentuk manik-manik atau berbentuk tong. Anabaene adalah organisme yang menggangu dan tidak dimakan oleh kebanyakan ikan budidaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Alga Hijau (Chlorophyta) </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Alga hijau adalah kelompok alaga yang paling maju dan memiliki banyak sifat-sifat tanaman tingkat tinggi. Kelompok ini adalah oraganisme prokaryotik dan memiliki struktur-struktur sel khusus yang dimiliki sebagaian besar alga. Mereka memiliki kloroplas, DNA–nya berada dalam sebuah nukleus, dan beberapa jenisnya memiliki flagella. Dinding sel alga hijau sebagaian besar berupa sellulosa, meskipun ada beberapa yang tidak mempunyai dinding sel. Mereka mempunyai klorophil a dan beberapa karotenoid, dan biasanya mereka berwarna hijau rumput. Pada saat kondisi budidaya menjadi padat dan cahaya terbatas, sel akan memproduksi lebih banyak klorophil dan menjadi hijau gelap. Kebanyakan alga hijau menyimpan zat tepung sebagai cadangan makanan meskipun ada diantaranya menyimpan minyak atau lemak. Pada umumnya unicel merupakan sumber makanan dalam budidaya dan filamen-filamennya merupakan organisme pengganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Tetraselmis </span></strong><span lang="SV">(Air tawar, air laut,) berupa orgaisme hijau motil, lebar 9-10 </span><span>m</span><span lang="SV">m, panjang 12-14 </span><span>m</span><span lang="SV">m, dengan empat flagel yang tumbuh dari sebuah alur pada bagian belakang anterior sel. Sel-selnya bergerak dengan cepat di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Ada empat cuping yang memanjang dan memiliki sebuah titik mata yang kemerah-merahan. Pyramimonas adalah organisme yang berkaitan dekat dengan alga hijau dan memiliki penampakan serta sifat berenang yang identik dengan tetraselmis. Kedua organisme ini adalah sumber makan yang populer untuk mengkultur rotifer, kerang, dan larva udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Clamidomonas</span></strong><span lang="SV"> (Air tawar, air laut, gambar ..) berwarna hijau dan motil, lebar 6,5-11 </span><span>m</span><span lang="SV">m, panjang 7,5-14 </span><span>m</span><span lang="SV">m, dengan dua flagela yang tumbuh didekat sebuah benjolan pada bagian belakang sel. Sel-selnya bergerak dengan cepat di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Selnya berbentuk spiral sampai memanjang dan biasanya memiliki sebuah titik mata merah. Pada saat sel betina terbentuk, sel induk akan kehilangan flagelanya dan mengeluarkan sebuah kantong transparant disekitar tubuhnya. Sel induk akan terbelah, dan membentuk 2-8 sel anak betina. Organisme ini digunakan sebagai pakan untuk rotifer.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Nannocloris</span></strong><span lang="SV"> (Air tawar, air laut,) berwarna hijau tidak motil dan tidak memiliki flagel, berukuran sangat kecil dengan diameter 1,5-2,5 </span><span>m</span><span lang="SV">m, sel berbentuk bola, dan memiliki sedikit ciri untuk membedakannya.Chloroplasnya berbentuk U dalam sel yang sehat. Sel-selnya cenderung untuk mengapung dalam budidaya, berupa suspensi dalam kondisi tanpa aerasi sehingga menguntungkan bagi usaha budidaya. organisme ini adalah sumber makan yang populer untuk mengkultur rotifer, kerang, dan larva udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Dunaliella </span></strong><span lang="SV">(Air tawar, air laut,) berwarna hijau motil dengan dua flagella, yang muncul didekat bagian belakang sel, lebar 5-8 </span><span>m</span><span lang="SV">m, panjang 7-12 </span><span>m</span><span lang="SV">m, Sel-selnya bergerak dengan cepat di air dan tampak bergoncang pada saat berenang. Selnya berbentuk melingkar hingga memanjang dan biasanya memiliki sebuah titik mata merah. Terdapat kloroplas yang mengisi 2/3 bagian selnya. Reproduksi dilakukan dengan cara sederhana dimana sel induk membelah menjadi dua sel anak betina. organisme ini adalah sumber makan yang populer untuk mengkultur rotifer, kerang, dan larva udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Chlorella</span></strong><span lang="SV"> (Air tawar, air laut,) berwarna hijau dan tidak motil serta tidak memiliki flagella. Selnya berbentuk bola berukuran sedang dengan diameter 2-10 </span><span>m</span><span lang="SV">m, tergantung spesiesnya, dengan chloroplas berbentuk cangkir. Selnya bereproduksi dengan membentuk dua sampai delapan sel anak didalam sel induk yang akan dilepaskan dengan melihat kondisi lingkungan. Merupakan pakan untuk rotifer dan dapnia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Scenedesmus (Air tawar,) berwarna hijau dan tidak motil dan biasanya tersusun atas 4 sel. Hidup berkoloni, berukuran lebar 12-14 </span><span>m</span><span lang="SV">m, dan panjang 15-20 </span><span>m</span><span lang="SV">m. Selnya berbentuk elips hingga lanceolate (panjang dan ramping), beberapa spesies memiliki duri atau tanduk. Setiap sel menghasilkan sebuah koloni bersel 4 setiap bereproduksi. Seringnya bersifat sebagai pengganggu. Organisme ini tidak umum dibudidayakan sebagai sumber pakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Ankistrodesmu (Air tawar, gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Organisme ini berwarna hijau dan tidak motil dan biasa bersel satu, panjang, selnya berbentuk cresent tipis. Biasanya berkoloni empat hingga delapan dengan membentuk sudut satu dengan lainnya. Organisme ini seringkali mengkontaminasi perairan dan dapat hidup pada pipa saluran air, air dalam kendi, dan air tandon. Tidak umum dikultur sebagai pakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Selenastrum (Air tawar, gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Organisme ini berwarna hijau dan tidak motil, berukuran lebar 2-4 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan panjang 8-24 </span><span>m</span><span lang="SV">m. Kadang-kadang digunakan sebagai pakan dapnia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">DIATOMAE – <em>CHRYSOPHYTA</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Diatom adalah kelompok alga yang unik dengan dinding sel yang terbentuk dari silikon dioksida. Dinding selnya dipenuhi banyak lubang sehingga tampak seperti ayakan (saringan) dan secara komersial dapat digunakan sebagai perlengkapan dalam beberapa peralatan filter. Dua kelompok utama didasarkan atas dinding sel yang simetris, baik bilateral maupun radial. Memiliki ciri-ciri tanaman tingkat tinggi dan termasuk dalam organisme eukaryotik. Tidak memiliki flagella kecuali pada beberapa spesies tertentu. Semua jenis memiliki kloroplas dan DNA mereka berada di dalam nukleus. Mereka hanya memiliki chlorophyl <em>a</em> dan <em>c</em> serta beberapa carotenoid seperti fucoxanthin sehingga membuat mereka berwarna kecoklatan. Organisme ini biasa digunakan sebagai pakan dalam budidaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Chaetoceros (Air laut, Gambar ….)</span></strong><span lang="SV">. Organisme ini merupakan sel tunggal dan dapat membentuk rantai menggunakan duri yang saling berhubungan dari sel yang berdekatan. Tubuh utama berbentuk seperti petri dish. Jika dilihat dari samping organisme ini berbentuk persegi dengan panjang 12-14 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan lebar 15-17 </span><span>m</span><span lang="SV">m, dengan duri yang menonjol dari bagian pojok. Selnya dapat membentuk rantai sebanyak 10-20 sel dan mencapai panjang 200 </span><span>m</span><span lang="SV">m. Populer sebagai pakan rotifer, kerang-kerangan, tiram, dan larva udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Cyclotella (Air tawar, air laut; Gambar … )</span></strong><span>. </span><span lang="SV">Merupakan organisme uniseluler berbentuk simetris radial dengan diameter 5-12 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan jarang membentuk rantai. Jarang memiliki duri dan biasanya tidak tampak jika dilihat menggunakan mikroskop ukuran kecil. Kadang-kadang digunakan sebagai pakan sumber pakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Thallasiosira (Air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Merupakan organisme berbentuk simetris radial dengan lebar 11-14 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan panjang 14-17 </span><span>m</span><span lang="SV">m, biasanya hadir dalam bentuk uniseluler akan tetapi organisme ini mampu membentuk rantai. Organisme ini umum digunakan sebagai pakan dalam budidaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Skeletonema (Air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Merupakan organisme yang membentuk rantai dengan sel yang berbentuk membulat yang dihubungkan oleh untaian silika panjang satu dengan lainnya. Sel individu berukuran lebar 6-10 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan panjang 20-25 </span><span>m</span><span lang="SV">m dengan cakupan filamen mencapai panjang 500 </span><span>m</span><span lang="SV">m berisi sekitar 15-20 sel. Organisme ini ditemukan juga di perairan muara pada salinitas 10 ppt dan merupakan genus plankton yang umum serta digunakan sebagai pakan dalam budidaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Phaeodactylum (Air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Diatom ini memiliki tubuh simetris bilateral dan memiliki dua bentuk tubuh. Yaitu bentuk perahu dengan lebar 2,5-5 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan panjang 12-25 </span><span>m</span><span lang="SV">m, serta berbentuk segitiga. Bentuk-bentuk ini menjadi motil pada saat bersentuhan dengan dasar perairan. Kadang-kadang digunakan sebagai pakan untuk rotifer, kerang, tiram dan biasanya organisme menyebabkan perairan menjadi kotor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">ALGA COKLAT-EMAS – <em>CHRYSOPHYTA </em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Alga coklat-emas dikaitkan dengan diatomae, namun mereka memiliki dinding sel silika yang sedikit selama masa hidup mereka. Alga ini memiliki sifat-sifat yang dapat ditemui pada sebagian besar alga. Beberapa anggota kelompok alga ini memiliki flagella dan motil. Semua memiliki kloroplas dan memilki DNA yang terdapat di dalam nukleusnya. Alga ini hanya memiliki chlorophyl <em>a </em>dan <em>c </em>serta beberapa carotenoid seperti fucoxanthin yang memberikan mereka warna kecokelatan. Alga ini seringkali dibudidayakan dalam bentuk uniseluler pada usaha budidaya sebagai sumber pakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Isochrysis (Air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Merupakan sel motil dengan 2 flagella yang tumbuh di dekat bagian belakang sel. Sel bergerak cepat di air dan berputar-putar pada saat berenang. Alga ini berbentuk bulat dengan diameter 4-8 </span><span>m</span><span lang="SV">m, berwarna emas dan biasanya memiliki sebuah titik mata merah. Kloroplasnya berbentuk mangkuk dan terlihat mengisi 2/3 bagian selnya, sedangkan ruangan sisanya terlihat kosong. Reproduksi dilakukan melalui pembelahan sederhana dimana sel induk membelah diri menjadi dua sel anak betina. Dikenal sebagai pakan rotifer, kerang, tiram, dan larva udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Nannochloropsis (Air tawar, air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Merupakan sel berwarna kehijauan, tidak motil, dan tidak berflagel. Selnya berbentuk bola, berukuran kecil dengan diamater 4-6 </span><span>m</span><span lang="SV">m. Organisme ini merupakan divisi yang terpisah dari <em>Nannochloris</em> karena tidak adanya chlorophyl <em>b</em>. Merupakan pakan yang populer untuk rotifer, <em>artemia</em>, dan pada umumnya merupakan organisme <em>filter feeder </em>(penyaring).</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Ellipsoidon (Air tawar, air laut; Gambar …)</span></strong><span>. </span><span lang="SV">Merupakan sel berwarna kehijauan, tidak motil, dan tidak memiliki flagella. Berbentuk oval atau elips dan berukuran kecil dengan panjang 4-6 </span><span>m</span><span lang="SV">m. Organisme ini tidak memiliki chlorophyl <em>b</em>. Digunakan sebagai pakan kerang dan tiram.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">ALGA MERAH – RHODOPHYTA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Alga merah merupakan makroalga yang umum dijumpai. Kelompok ini hanya memiliki chlorophyl <em>a</em> di samping memiliki pigmen lainnya seperti phycocyanin (pigmen biru), dan phycoeretrin (pigmen merah), seperti juga halnya berbagai carotenoid. Phycoeretrin memberi warna merah pada alga ini. Selain itu alga ini juga terkadang berwarna hijau kebiruan hingga ungu. Alga merah uniseluler tidak motil dan tidak memiliki flagel. Dapat digunakan dalam lingkungan budidaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Porphyridium (Air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Merupakan organisme uniseluler berbentuk bola dengan diameter 7-12 </span><span>m</span><span lang="SV">m. Diklasifikasikan sebagai salah satu spesies alga merah yang sederhana karena organisme ini tidak bereproduksi secara seksual dan memiliki glikogen sebagai penyusun tempat penyimpanan. Alga ini digunakan pada lingkungan budi daya untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">EUGLENOPHYTA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Euglenophyta dimasukkan dalam kelompok alga hijau oleh beberapa ahli taksonomi dan dimasukkan ke dalam golongan protozoa oleh sebagian ahli lainnya dikarenakan organisme ini memiliki sifat-sifat tanaman sekaligus hewan. Organisme ini merupakan organisme eukaryotik dengan struktur-struktur tubuh yang dapat dijumpai pada sebagian besar alga, namun mereka juga memiliki kerongkongan sehingga mereka dapat memasukkan partikel ke dalam tubuhnya. Mereka memiliki satu flagella yang panjang dan bisanya berenang dengan cara menarik diri mereka melalui air. Beberapa di antaranya melakukan gerakan amoeboid. Organisme ini tidak memiliki dinding sel, namun mereka memiliki lapisan luar yang keras yang tersusun dari protein yaitu <em>pellicle</em>, yang memiliki fungsi yang sama seperti dinding sel. Euglenophyta memiliki chlorophyl <em>a </em>dan <em>b</em> beberapa carotenoid dan biasanya mereka terlihat berwarna hijau rumput. <em>Euglena</em> umum ditemukan di perairan yang kaya akan nutrien.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Euglena (Air tawar, air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Merupakan organisme berwarna hijau dan motil dengan satu flagella yang tumbuh dari sebuah kerongkongan di dekat bagian belakang sel. Sebagian besar spesiesnya memiliki tubuh memanjang dengan lebar 10-15 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan panjang 50-150 </span><span>m</span><span lang="SV">m, dan biasanya memiliki sebuah titik mata merah. Pada umumnya <em>Euglena </em>tidak digunakan sebagai pakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">CRYPTOPHYTA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Cryptophyta adalah kelompok uniseluler yang unik yang tidak memiliki kedekatan dengan kelompok alga lainnya. Kelompok ini merupakan organisme eukaryotik, dan mereka juga memiliki kerongkongan. Semua spesies kelompok ini memiliki flagel, bersifat motil, dan memiliki satu atau dua kloroplast serta memiliki chlorophyl <em>a</em> dan <em>c</em>, phycocyanin dan phycoeretrin serta beberapa carotenoid yang memberikan warna kecokelatan pada tubuh mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Cryptomonas (Air tawar, air laut; Gambar …)</span></strong><span>. Genus ini merupakan kelompok cryptomonad yang paling umum ditemukan dan memiliki dua buah flagella, yang satu panjang dan yang satu lagi pendek. Ukuran sel berkisar antara panjang 8-16 </span><span>m</span><span>m dan lebar 6-8 </span><span>m</span><span>m. Mereka memiliki 1-2 kloroplas cokelat dan dapat melakukan fotosintesa ataupun bertahan hidup menggunakan bakteri. Pada umumnya tidak digunakan sebagai pakan pada lingkungan budidaya, namun demikian populasi di alam merupakan makanan bagi rotifer, kerang, tiram, dan larva udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>PHYRROPHYTA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam kelompokl ini terdapat dinoflagellata yang merupakan suatu kelompok organisme uniseluler yang unik yang memiliki dua flagella dan umum dijumpai di air tawar maupun air laut. Kelompok ini merupakan organisme eukaryotik. Sebagian besar anggotanya bersifat motil, meskipun seringkali terdapat fase dimana mereka bersifat non-motil pada siklus hidup sebagian besar spesiesnya. Pigmen golongan yang dapat berfotosintesis adalah chlorophyl <em>a</em> dan <em>c </em>, xanthophyl peridinin dan dinoxanthin serta beberapa lainnya. Sebagian besar spesiesnya menyimpan zat tepung sebagai cadangan makanan. Salah satu ciri khas kelompok organisme ini adalah keberadaan dinding sel yang terbuat dari lapisan selulosa. </span><span lang="SV">Akan tetapi ada beberapa organisme yang tidak memiliki dinding sel ini. Organismen ini memiliki dua flagella. Banyak organisme dari golongan ini yang memiliki trichocyst, yaitu struktur protein yang dapat dikeluarkan dari permukaan sel untuk melindungi diri dari predator. Fenomena ‘<em>red tide</em>’ adalah peristiwa yang dihubungkan dengan ledakan (berkumpulnya) dinoflagellata karena adanya pigmen kemerahan yang terakumulasi dalam organisme-organisme ini dan dalam jumlah yang besar yang terjadi pada kondisi lingkungan tertentu. Beberapa dinoflagellata menyebabkan peracunan pada kerang-kerangan dan menyebabkan pengakumulasian neurotoxin dalam konsentrasi tinggi. Beberapa spesies merupakan parasit bagi ikan yang menyebabkan masalah seperti ‘velvet disease’. Sebagian besar spesies bukan merupakan makanan ikan karena ukurannya terlalu besar untuk dikonsumsi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Ceratium (Air tawar; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Genus ini adalah salah satu dinoflagellata yang paling umum dan mudah dikenali. Ia memiliki perlindungan yang kuat dengan satu lengan panjang dan dua lengan pendek yang lurus keras atau bengkok, tergantung pada spesiesnya. Sel-selnya bersifat motil dan berenang aktif pada saat pertama kali diuji, biasanya berenang dengan arah lurus ataupun membentuk kurva. Ukuran sel beragam dengan panjang 30-90 </span><span>m</span><span lang="SV">m dan lebar 10-30 </span><span>m</span><span lang="SV">m.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Peridinium (Air tawar, air laut; Gambar …)</span></strong><span lang="SV">. Genus ini merupakan dinoflagellata yang umum, memiliki lapisan yang keras, sebagian besar berbentuk bulat dengan kepala apical dan duri yang menyerupai kaki pada beberapa spesies. Sel-selnya motil dan berenang aktif dalam gerakan memutar. Memiliki diameter 25-80 </span><span>m</span><span lang="SV">m.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">I. C Cara Hidupnya dan cara menumbuhkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">II. Manfaat didalam Budidaya Perikanan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Didalam proses kultur microalgae yang terpenting adalah melakukan seleksi spesies-spesies yang akan dijadikan kultivan untuk kepentingan budidaya perikanan secara luas dan tujuan-tujuan khusus lainnya yang bahan bakunya diambil dari sel algae. Biasanya untuk seleksi spesies calon kultivan, berdasarkan kepada ukuran sel, nilai nutrisi, dan kemudahan teknik kultur pada kondisi dan iklim dimana mereka digunakan. Banyak jenis mikroalgae yang digunakan untuk kepentingan budidaya perikanan, akan tetapi beberapa spesies algae yang popular dan dominant digunakan adalah; <em>Nannochloropsis oculata</em> (2-4 </span><span>μ</span><span lang="SV">m), <em>Isochrysis galbana</em> (5-7 </span><span>μ</span><span lang="SV">m),<em> Tetraselmis chuii</em> (7-10</span><span>μ</span><span lang="SV">m), <em>Chaetoceros</em> <em>gracilis</em> (6-8 </span><span>μ</span><span lang="SV">m), <em>Dunaliella</em> <em>tertiolecta</em> (7-9 </span><span>μ</span><span lang="SV">m), dan beberapa spesies dari <em>Chlorella</em> sp(3-9 </span><span>μ</span><span lang="SV">m). Khusus untuk <em>Nannochloropsis oculata </em>yang sering disebut sebagai chlorella jepang (Maruyama <em>et</em> <em>al</em>, 1986), digunakan sebagai pakan rotifer yang penting peranannya bagi kelangsungan hidup larva ikan dan udang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebagian besar spesies algae adalah masuk kedalam golongan algae fotoautrotop yang memperoleh enrgi dari sinar dan karbon dioksida menjadi ikatan atom karbon. Beberapa bagian spesies algae bersifat heterotrop yang tidak memerlukan sinar dan karbon dari komponen organic seperti gula dan asam organic. Beberapa bagian lagi spesies algae termasuk kelompok mixotropik yang dapat mereproduksi selnya dalam kondisi pencahayaan sinar maupun tanpa sinar (kondisi gelap). Selain sifat-sifat dari golongan tersebut diatas, khususnya untuk algae fotoautrotop juga mempunyai kemampuan untuk mendapatkan enrgi dari heterotropik sering tumbuh pada laju pertambahan melalui pemanfaatan cahaya sinar dan karbon dioksida beserta substansi organic secara simultan. Beberapa algae yang mempunyai sifat itu disebut sebagai obligate fotoautotrop, dimana atas dasar hasil penelitian hal itu terjadi apabila nutrient pada level alami (Droop, 1974). Sebaliknya beberapa spesies algae dapat menjadi heterotropik ketika kondisi nutrient diatas atau dibawah kondisi alamim sebagai contoh adalah <em>Brachiomonas</em> <em>submarina</em> dan beberapa strain dari <em>Haematococcus</em> <em>plavialis</em>, dimana dapat mereduksi/mengurangi nitrat ketika tumbuh secara proses fotosintesis, tetapi mereka tidak dapat melakukan apabiladalam kondisi gelap. Ketika terjadi suatu pengurangan sumber nitrat seperti ammonia mereka dikatakan tumbuh secara heterotropik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Variabel kimia lingkungan perairan memainkan peranan penting didalam mendeterminasi tingkat pertumbuhan dan kualitas sel algae. Mikroalgae dapat menyerap nutrient dari seluruh lapisan perairan, karena bisa mengabsorpsi langsung melalui membrane sel. Salah satu tujuan kukltur algae adalah untuk mendapatkan kelimpahan sel yang tertinggi didalam periode waktu yang singkat. Apabila pemanfaatan air laut dan air tawar alami dengan zat penyubur yang terbatas akan tidak mendapatkan hasil kelimpahan sel yang tidak baik. Didalam kondisi perairan alami, konsentrasi trace metal biasanya cukup terpenuhi, tetapi kandungan makro nutrient Nitrat dan fosfat biasanya terbatas. Untuk Fosfor biasanya terbatas keberadaannya diperairan tawar dan Nitrat biasanya terbatas diperairan laut (Darley, 1982). Kultur microalgae akan tumbuh baik didalam media kultur dengan kandungan nutrient makro dan komposisi trace metal daripada perairan alami. Biasanya kandungan Nitrat didalam kultur microalgae secara intensif bisa mencapai 100-1000 kali lebih tinggi daripada kondisi di alam. Didalam intensif kultur microalgae dan atau kultur microalgae di laboratorium media kultur algae yang digunakan disuburkan terlebih dahulu dengan nutrient makro, mikro, trace metal, vitamin dan zat chelator sangat penting untuk memperlancar proses penyerapan sel algae akan trace metal untuk melakukan proses fotosintesa-pembentukan biomassa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka komposisi zat penyubur menjadi sangat popular didalam pelaksanaan budidaya pakan alami, khususnyauntuk keperluan budidaya yang intensif. Pengaruh lingkungan media kultur yang berubah-ubah dan hasil produksi sel yang tidak terprediksi merupakan bentuk pertumbuhan populasi sel algae secara alami dan sebaliknya pertumbuhan sel microalgae yang dapat diprediksi dengan kelimpahan yang tinggi dan hasil biomassa yang mempunyai kualitas nutrisi konsisten merupakan hasil dari penerapan metoda kultur algae intensif dan terkontrol.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Secara umum perlengkapan dan peralatan kultur skala kecil akan mudah untuk mengkontrol lingkungan kultur dan hasil produksi sel algae. Teknik dan metode kultur secara besar kecilnya wadah kultur juga akan menentukan keberhasilan produksi biomasa. Selain itu, system kultur baik “indoor” maupun “outdoor” akan menentukan tingkat keberhasilan budidaya pakan alami. Jenis bahan kimia sebagai zat penyubur (pure analysis atau teknis) juga menjadi pembatas keberhasilan .demikian juga dengan pengelolaaan air, kemurnian bibit sel algae yang digunakan akan menentukan keberhasilan kultur. Sehubungan dengan itu, maka diperlukan langkah-langkah yang mendasar dengan memperhitungkan factor pembatas tersebut diatas didalam merencanakan budidaya pakan alami microalgae agar tujuan untuk mendapatkan hasil produksi sel alagae yang maximal dengan kualitas sel yang tinggi untuk pakan kuntivan budidaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">4.2 .Nilai Nutrisi Sel Microalgae</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Pada umumnya nilai nutrisi mokroalgae dihubungkan langsung dengan spesies, suplai nutrient, cahaya, dan kondisi fisika kimia selama pertumbuhan selnya. Sebagai contoh, ketika <em>Monodus subterraneus</em> tumbuh ekponensial, sel algae mempunyai tingkat respirasi dan fotosintesa yang tinggi, dan kandungan proteinnya lebih dari 70 % berat kering serta tingginya produksi klorofil dan asam nukleat, tetapi mempunyai kandungan karbohidrat dan lemak yang rendah (fogg, 1959). Sebaliknya pada kondisi kandungan nitrogen rendah, sel algae mempunyai tingkat fotosintesa dan respirasi yang rendah pula, serta diikuti kandungan protein kurang dari 10 %, serta terjadi tingginya kandungan karbohidrat dan lemak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Perbedaan jenis microalgae yang dikultur dibawah kondisi lingkungan kultur yang sama akan menghasilkan perbedaan kandungan dan komposisi asam lemak. (Okauchi, 1991). Demikian juga oleh Chen (1991) memberikan contoh beberapa spesies mikroalgae yang dikultur pada kondisi yang sama menghasilkan komposisi nilai proximat yang berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">PEMANFAATAN MIKROALGAE SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF DAN BAHAN FORTIFIKASI PANGAN </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Perubahan iklim global dan krisis ekonomi yang berkepanjangan memicu terjadinya kondisi kelangkaan bahan pangan di masyarakat. Selain itu juga menyebabkan harga bahan pangan meningkat cukup drastis. Kondisi ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama golongan menengah ke bawah. Kecukupan pangan dan gizi sebagai hak dasar manusia saat ini mungkin sangat sulit untuk dipenuhi. Kondisi ini menyebabkan merebaknya kasus-kasus balita dengan gizi buruk, serta penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi di masyarakat khususnya di Indonesia. Hal tersebut jika dibiarkan terjadi berkepanjangan dapat mengancam masa depan generasi bangsa serta terhambatnya proses pembentukan SDM yang berkualitas yang dibutuhkan untuk melanjutkan masa depan bangsa. Pada umumnya masyarakat (terutama di Indonesia) terbiasa mengikuti tradisi dari leluhurnya, termasuk dalam hal konsumsi makanan, baik dari pola makan, cara pengolahan bahan makanan maupun dalam pemanfaatan sumber-sumber bahan makanan itu sendiri. Pemanfaatan sumberdaya alam sebagai bahan makanan oleh masyarakat pada umumnya terbatas pada sumber-sumber atau bahan makanan yang sudah umum dikenal, serta cenderung menolak atau kurang tertarik untuk mencoba memanfaatkan sumber pangan yang kurang familiar bagi mereka, apalagi sumber pangan baru.Mikroalgae, atau yang lebih dikenal dengan phytoplankton, sudah mulai diperkenalkan sebagai sumber makanan sejak beberapa waktu yang lalu. Namun respon masyarakat terhadap sumberdaya ini terlihat kurang begitu antusias. Padahal mikroalgae memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik, bahkan lebih baik dibandingkan makanan yang biasa dimakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.Diantara jenis-jenis mikroalgae yang potensial dan sudah cukup dikenal sebagai sumber pangan antara lain Spirulina sp., Chlorella sp. dan Dunaliella sp. Saat ini teknologi pengolahan mikroalgae menjadi bahan makanan siap konsumsi masih sangat terbatas, dan produk yang dihasilkan juga masih belum memenuhi “kriteria” masyarakat sebagai sumber pangan. Animo masyarakat bahwa “setelah makan berarti harus kenyang” adalah suatu anggapan yang harus diubah. Seharusnya yang diperlukan bukan kenyangnya, tapi “apakah asupan gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sudah terpenuhi?”<br />
Dari hasil berbagai penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa Spirulina sp. memliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Kandungan protein berkisar 55-70%, karbohidrat 15-25% dan lemak 6-8%. Selain itu, hampir semua jenis vitamin, mineral serta asam amino essensial dan non essensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh terdapat pada spirulina. Loseva (1999) menyatakan bahwa Spirulina platensis dapat memperkuat sistem imunitas dan membantu proses detoksifikasi zat-zat racun dari dalam tubuh. Menurut Yonghuang (1994) kandungan zat besi yang tinggi pada spirulina dua kali lebih efektif dari pada suplemen zat besi dalam proses penyembuhan kekurangan zat besi pada anak-anak di China, serta masih banyak lagi manfaat dari Spirulina sehubungan dengan kandungan nutrisinya yang sangat tinggi. Chlorella sp. merupakan salah satu spesies mikroalgae dari divisi Chlorophyta yang sudah dimanfaatkan secara luas untuk konsumsi manusia. Chlorella juga memiliki nilai nutrisi cukup tinggi, diantaranya kandungan protein mencapai 60,5%; karbohidrat 20,1%; lemak 11%20,1%; lemak 11%; serta berbagai jenis vitamin, mineral, asam lemak dan asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh. Chlorella dapat memicu sistem immun dalam tubuh. Oleh karena kandungan nutrisinya yang sangat baik sehingga mampu mengaktifkan sel-sel penting yang berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat toksik dari dalam tubuh. Dunalila salina yang juga merupakan salah satu spesies dari mikroalgae memiliki kandungan beta-carotene yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, jenis mikroalgae ini juga sudah digunakan sebagai bahan fortifikasi pangan di Eropa. Menurut Riedel (2008), Nannochloropsis sp. memiliki kandungan protein 52,11%; karbohidrat 16,00% dan lemak 27,64%; serta EPA (Eicosapentaenoic Acid) hingga 31,42% dan ARA/AA (Arachidonic Acid) 3,94%. Tetraselmis sp. memiliki kandungan protein 54,66%; karbohidrat 18,31% dan lemak 14,27%. Pavlova sp. memiliki kandungan protein 51,60%; karbohidrat 22-24% dan lemak 19,56%. Selain itu Pavlova kaya dengan asam lemak EPA dan DHA (Docosahexaenoic Acid). Isochrysis sp. memiliki kandungan protein 46,69%; karbohidrat 24,15% dan lemak 17,07% serta kaya dengan DHA.Selain dari jenis-jenis mikroalgae di atas, masih terdapat lebih dari 70.000 spesies mikroalgae yang hidup di perairan di seluruh dunia. Dengan demikan masih banyak peluang untuk mengembangkan sumber pangan alternatif ini. Selain dapat digunakan sebagai bahan pangan, mikroalgae dapat juga dimanfaatkan untuk fortifikasi bahan pangan yang sudah biasa dikonsumsi masyarakat. Diharapkan kedepannya kecukupan pangan dan gizi masyarakat dapat terpenuhi sehingga SDM yang dihasilkan juga lebih berkualitas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span><span lang="SV">III. Bagaimana memproduksi mikroalga dalam sekala besar.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Jawab: </span></p>
<ol type="a">
<li class="MsoNormal"><span>Pembibitan.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span>Beberapa jenis Diatomae telah dapat dibudiyakan dengan baik. Jenis diatomae yang paling banyak banyak dibudidayakan adalah </span><span>Chaetoceros calcitrans dan Skeletonema costatom. Bibit murninya telah banyak tersedia sehingga untuk mendapatkan bibinya tidak akan sulit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selain itu Diatomae juga dapat diperolehdengan mengkultur diatomae liar yang berasal dari alam. Akan tetapi untuk mendapatklan hasil budidaya dan tingkat kemurnian yang tinggi memerlukan keterampilan seperti halnya dilaboratorium penelitian.</span></p>
<ol type="a">
<li class="MsoNormal"><span>Budidaya Massal.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span>Dalam Usaha budidaya missal ini, Diatomae ditumbuhkan melalui penangkaran bertingkat. Awalnya ditumbuhkan didalam wadah bervolume 1 Liter kemudian diperbanyak didalam wadah 1 galon ( 3 liter ) selanjutnya didalam wadah 200 liter dan akhirnya didalam 1 ton (1 m<sup>3</sup> ) atau lebih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Contoh :</span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span> </span></span></span><!--[endif]--><span>Budidaya didalam wadah bervolume 1 Liter.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Budidaya Alga dilakukan dengan menggunakan wadah botol evlenmeyer satu liter. Sebelumnya selang plastic, batu aerasi dan botol erlnmeyer dengan detergent kemudian dibilas dengan larutan klorin 150 ppm. Setelah dicuci, botol diisi air sebanyak 300-500 ml. untuk Diatomae laut digunakan air laut denga kadar garam antara 28-35 Permil. Untuk jenis diatomae air tawar digunakan media air tawar yang telah disaring dengan kain saringan 15 mikron. Selain iotu supaya steril air dipanaskan, ditaburi klorin atau disinari dengan lampu ultraviolet.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tghnul.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tghnul.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tghnul.wordpress.com&amp;blog=5854880&amp;post=10&amp;subd=tghnul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/19/10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/50df6c0442206a4922b51a21cc63c537?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tghnul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;BUDIDAYA IKAN NILA&#8221;</title>
		<link>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/18/budidaya-ikan-nila/</link>
		<comments>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/18/budidaya-ikan-nila/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 08:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tghnul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[Budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Nila]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tghnul.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[1. SEJARAH SINGKAT Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tghnul.wordpress.com&amp;blog=5854880&amp;post=5&amp;subd=tghnul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><br />
<span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">1. SEJARAH SINGKAT</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Ikan nila merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungal Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis.<span id="more-5"></span> Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik Ikan nila disukai oleh berbagai bangsa karena dagingnya enak dan tebal seperti daging ikan </span><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"> adaptasi, barulah ikan ini disebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah melalui Direktur Jenderal Perikanan. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT">2. SENTRA PERIKANAN</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT">Di Indonesia ikan nila telah dibudidayakan di seluruh propinsi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">3. JENIS</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Klasifikasi ikan nila adalah sebagai berikut: </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Kelas : Osteichthyes</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Sub-kelas : Acanthoptherigii</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Crdo : Percomorphi</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Sub-ordo : Percoidea</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Famili : Cichlidae</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Genus : Oreochromis</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Spesies : Oreochromis niloticus</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">.<br />
Terdapat 3 jenis nila yang dikenal, yaitu: nila biasa, nila merah (nirah) dan nila albino.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">4. MANFAAT</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Sebagai sumber penyediaan protein hewani. </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">5. PERSYARATAN LOKASI</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar<br />
dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air<br />
arus deras. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30 derajat C. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:9pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penyiapan Sarana dan Peralatan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kolam<br />
Sarana berupa kolam yang perlu disediakan dalam usaha budidaya ikan nila tergantung dari sistim pemeliharaannya (sistim 1 kolam, 2 kolam dlsb).<br />
Adapun jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan nila antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kolam pemeliharaan induk/kolam pemijahan Kolam ini berfungsi sebagai kolam pemijahan, kolam sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya 50-100 meter persegi dan kepadatan kolam induk hanya 2 ekor/m 2 . Adapun syarat kolam pemijahan adalah suhu air berkisar antara 20-22 derajat C; kedalaman air 40-60 cm; dasar kolam sebaiknya berpasir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan<br />
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu, pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:144pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Kolam pembesaran<br />
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara<br />
2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab<br />
benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua<br />
atau langsung dijual kepada pera petani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah.<br />
Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 meter persegi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Kolam/tempat pemberokan<br />
Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa Hapa berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1 &#8211; 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Peralatan<br />
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan nila diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember, baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (kg), cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar kekeruhan. Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan nila antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih), sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk menangkap<br />
ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi), scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas), seser<br />
(gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Persiapan Media<br />
Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan, pemupukan dlsb. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk<br />
memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/meter persegi, diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/meter persegi, bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/meter persegi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pembibitan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemilihan Bibit dan Induk<br />
Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pertumbuhannya sangat cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram lebih per ekor dan berumur sekitar 4-5 bulan.<br />
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Betina</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Terdapat 3 buah lubang pada urogenetial yaitu: dubur, lubang pengeluaran telur dan lubang urine.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Ujung sirip berwarna kemerah-merahan pucat tidak jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Warna perut lebih putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Warna dagu putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Jantan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pada alat urogenetial terdapat 2 buah lubang yaitu: anus dan lubang sperma merangkap lubang urine.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Ujung sirip berwarna kemerah-merahan terang dan jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="FI"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Warna perut lebih gelap/kehitam-hitaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:162pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Jika perut distriping mengeluarkan cairan.<br />
Ikan nila sangat mudah kawin silang dan bertelur secara liar. Akibatnya, kepadatan kolam meningkat. Disamping itu, ikan nila yang sedang beranak lambat pertumbuhan sehingga diperlukan waktu yang lebih lama agar dicapai ukuran untuk dikonsumsi yang diharapkan. Untuk mengatasi kekurangan ikan nila di atas, maka dikembang metode kultur tunggal kelamin (monoseks). Dalam metode ini benih jantan saja yang dipelihara karena ikan nila jantan yang tumbuh lebih cepat dan ikan nila betina. Ada empat cara untuk memproduksi benih ikan nila jantan yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:198pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Secara manual (dipilih)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:198pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem hibridisasi antarjenis tertentu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:198pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Merangsang perubahan seks dengan hormon</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:198pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Teknik penggunaan hormon seks jantan ada dua cara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:234pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Perendaman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:234pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Perlakuan hormon melalui pakan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pembenihan dan Pemeliharaan Benih<br />
Pada usaha pembenihan, kegiatan yang dilakukan adalah :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Memelihara dan memijahkan induk ikan untuk menghasilkan burayak (anak ikan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Memelihara burayak (mendeder) untuk menghasilkan benih ikan yang lebih besar. Usaha pembenihan biasanya menghasilkan benih yang berbeda-beda ukurannya. Hal ini berkaitan dengan lamanya pemeliharaan benih. Benih ikan nila yang baru lepas dan mulut induknya disebut &#8220;benih kebul&#8221;. Benih yang berumur 2-3 minggu setelah menetas disebut benih kecil, yang disebut juga putihan (Jawa Barat). Ukurannya 3-5 cm. Selanjutnya benih kecil dipelihara di kolam lain atau di sawah. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Setelah dipelihara selama 3-1 minggu akan dihasilkan benih berukuran 6 cm dengan berat 8-10 gram/ekor. Benih ini disebut gelondongan kecil. Benih nila merah. Berumur 2-3 minggu, ukurannya ± 5 cm. Gelondongan kecil dipelihara di tempat lain lagi selama 1- 1,5 bulan. Pada umur ini panjang benih telah mencapai 10-12 cm dengan berat 15-20 gram. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Benih ini disebut gelondongan besar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemeliharaan Pembesaran<br />
Dua minggu sebelum dan dipergunakan kolam harus dipersiapkan. Dasar kolam dikeringkan, dijemur beberapa hari, dibersihkan dari rerumputan dan dicangkul sambil diratakan. </span><span style="font-family:Arial;" lang="PT-BR">Tanggul dan pintu air diperbaiki jangan sampai teriadi kebocoran. Saluran air diperbaiki agar jalan air lancar. Dipasang saringan pada pintu pemasukan maupun pengeluaran air. Tanah dasar dikapur untuk memperbaiki pH tanah dan memberantas hamanya. Untuk mi dipergunakan kapur tohor sebanyak 100-300 kg/ha (bila dipakai kapur panas, Ca 0). Kalau dipakai kapur pertanian dosisnya 500-1.000 kg/ha. Pupuk kandang ditabur dan diaduk dengan tanah dasar kolam. Dapat juga pupuk kandang dionggokkan di depan pintu air pemasukan agar bila diairi dapat tersebar merata. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Dosis pupuk kandang 1-2 ton/ha. Setelah semuanya siap, kolam diairi. Mula-mula sedalam 5-10 cm dan dibiarkan 2-3 hari agar teriadi mineralisasi tanah dasar kolam.Lalu tambahkan air lagi sampai kedalaman 80-100 cm. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kini kolam siap untuk ditebari induk ikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemupukan<br />
Pemupukan dengan jenis pupuk organik, anorganik (Urea dan TSP), serta kapur. Cara pemupukan dan dosis yang diterapkan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh dinas perikanan daerah setempat, sesuai dengan tingkat kesuburan di tiap daerah. Beberapa hari sebelum penebaran benih ikan, kolam harus dipersiapkan dahulu. Pematang dan pintu air kolam diperbaiki, kemudian dasar kolam dicangkul dan diratakan. Setelah itu, dasar kolam ditaburi kapur sebanyak 100-150 kg/ha. Pengapuran berfungsi untuk menaikkan nilai pH kolam menjadi 7,0-8,0 dan juga dapat mencegah serangan penyakit. Selanjutnya kolam diberi pupuk organik sebanyak 300-1.000 kg/ha. Pupuk Urea dan TSP juga diberikan sebanyak 50 kg/ha. Urea dan TSP diberikan dengan dicampur terlebih dahulu dan ditebarkan merata di dasar kolam. Selesai pemupukan kalam diairi sedalam 10 cm dan dibiarkan 3-4 hari agar terjadi reaksi antara berbagai macam pupuk dan kapur dengan tanah. Han kelima air kolam ditambah sampai menjadi sedalam 50 cm. Setelah sehari semalam, air kolam tersebut ditebari benih ikan. Pada saat itu fitoplankton mulai tumbuh yang ditandai dengan perubahan warna air kolam menjadi kuning kehijauan. Di dasar kolam juga mulai banyak terdapat organisme renik yang berupa kutu air, jentik-jentik serangga, cacing, anak-anak siput dan sebagainya. Selama pemeliharaan ikan, air kolam diatur sedalam 75- 100 cm. Pemupukan susulan harus dilakukan 2 minggu sekali, yaitu pada saat makanan alami sudah mulai habis. Pupuk susulan ini menggunakan pupuk organik sebanyak 500 kglha. Pupuk itu dibagi menjadi empat dan masing-masing dimasukkan ke dalam keranjang bambu. Kemudian keranjang diletakkan di dasar kolam, dua bush di kin dan dua buah di sisi kanan aliran air masuk. Sedangkan yang dua keranjang lagi diletakkan di sudut-sudut kolam. Urea dan TSP masing-masing sebanyak 30 kg/ha diletakkan di dalam kantong plastik yang diberi lubang-lubang kecil agar pupuk sedikit demi sedikit. Kantong pupuk tersebut digantungkan sebatang bambu yang dipancangkan di dasar kolam. Posisi ng terendam tetapi tidak sampai ke dasar kolam. Selain pukan ulang. ikan nila juga harus tetap diberi dedak dan katul. pemupukan di atas dapat dilakukan untuk kolam air tawar, payau atau sawah yang diberakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemberian Pakan<br />
Pemupukan kolam telah merangsang tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, maupun binatang yang hidup di dasar, seperti cacing, siput, jentik-jentik nyamuk dan chironomus (cuk). Semua itu dapat menjadi makanan ikan nila. Namun, induk ikan nila juga masih perlu pakan tambahan berupa pelet yang mengandung protein 30-40% dengan kandungan lemak tidak lebih dan 3%. Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup di dalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dan taoge dan daun-daunan/sayuran yang duris-iris. Boleh juga diberi makan tumbuhan air seperti ganggeng (Hydrilla). Banyaknya pelet sebagai pakan induk kira-kira 3% berat biomassa per han. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Agar diketahui berat bio massa maka diambil sampel 10 ekor ikan, ditimbang, dan dirata-ratakan beratnya. Berat rata-rata yang diperoleh dikalikan dengan jumlah seluruh ikan di dalam kolam. Misal, berat rata-rata ikan 220 gram, jumlah ikan 90 ekor maka berat biomassa 220 x 90 = 19.800 g. Jumlah ransum per han 3% x 19.800 gram = 594 gram. Ransum ini diberikan 2-3 kali sehari. Bahan pakan yang banyak mengandung lemak seperti bungkil kacang dan bungkil kelapa tidak baik untuk induk ikan. Apalagi kalau han tersebut sudah berbau tengik. Dedak halus dan bekatul boleh diberikan sebagai pakan. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Bahan pakan seperti itu juga berfungsi untuk menambah kesuburan kolam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:90pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemeliharaan Kolam/Tambak<br />
Sistem dan intensitas pemeliharaan ikan nila tergantung pada tempat pemeliharaan dan input yang tersedia.Target produksi harus disesuaikan dengan permintaan pasar. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Biasanya konsumen menghendaki jumlah dan ukuran ikan yang berbeda-beda. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Intensitas usaha dibagi dalam tiga tingkat, yaitu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem ekstenslf (teknologi sederhana)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem ekstensif merupakan sistem pemeliharaan ikan yang belum berkembang. Input produksinya sangat sederhana. Biasanya dilakukan di kolam air tawar. Dapat pula dilakukan di sawah. Pengairan tergantung kepada musim hujan. Kolam yang digunakan biasanya kolam pekarangan yang sempit. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Hasil ikannya hanya untuk konsumsi keluarga sendiri. Sistem pemeliharaannya secara polikultur. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem ini telah dipopulerkan di wilayah desa miskin. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pemupukan tidak diterapkan secara khusus. Ikan diberi pakan berupa bahan makanan yang terbuang, seperti sisa-sisa dapur limbah<br />
pertanian (dedak, bungkil kelapa dll.). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Perkiraan pemanenan tidak tentu. Ikan yang sudah agak besar dapat dipanen sewaktu-waktu. Hasil pemeliharaan sistem ekstensif sebenar cukup lumayan, karena pemanenannya bertahap. Untuk kolam herukuran 2 x 1 x 1 m ditebarkan benih ikan nila sebanyak 20 ruang berukuran 30 ekor. Setelah 2 bulan diambil 10 ekor, dipelihara 3 bulan kemudian beranak, demikian seterus. Total produksi sistem ini dapat mencapai 1.000 kg/ha/tahun 2 bln. Penggantian air kolam menggunakan air sumur. Penggantian dilakukan seminggu sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Sistem semi-Intensif (teknologi madya)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pemeliharaan semi-intensif dapat dilakukan di kolam, di tambak, di sawah, dan di jaring apung. Pemeliharaan ini biasanya digunakan untuk pendederan. Dalam sistem ini sudah dilakukan pemupukan dan pemberian pakan tambahan yang teratur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Prasarana berupa saluran irigasi cukup baik sehingga kolam dapat berproduksi 2-3 kali per tahun. Selain itu, penggantian air juga dapat<br />
dilakukan secara rutin. Pemeliharaan ikan di sawah hanya membutuhkan waktu 2-2,5 bulan karena bersamaan dengan tanaman padi atau sebagai penyelang. OIeh karena itu, hasil ikan dan sawah ukurannya tak lebih dari 50 gr. Itu pun kalau benih yang dipelihara sudah berupa benih gelondongan besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Budi daya ikan nila secara semi-intensif di kolam dapat dilakukan secara monokultur maupun secara polikultur. Pada monokultur sebaiknya dipakai sistem tunggal kelamin. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Hal mi karena nila jantan lebih cepat tumbuh dan ikan nila betina. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem semi-intensif juga dapat dilakukan secara terpadu (intergrated), artinya kolam ikan dikelola bersama dengan usaha tani lain maupun dengan industri rumah tangga. Misal usaha ternak kambing, itik dan sebagainya. Kandang dibuat di atas kolam agar kotoran ternak menjadi pupuk untuk kolam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Usaha tani kangkung, genjer dan sayuran lainnya juga dapat dipelihara bersama ikan nila. Limbah sayuran menjadi pupuk dan pakan tambahan bagi ikan. Sedangkan lumpur yang kotor dan kolam ikan dapat menjadi pupuk bagi kebun sayuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Usaha huler/penggilingan padi mempunyai hasil sampingan berupa dedak dan katul. Oleh karena itu, sebaiknya dibangun kolam ikan di<br />
dekat penggilingan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Hasil penelitian Balai Penelitian Perikanan sistem integrated dapat menghasilkan ikan sampai 5 ton atau lebih per 1 ha/tahun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:126pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem intensif (teknologi maju)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem pemeliharaan intensif adalah sistem pemeliharaan ikan paling modern. Produksi ikan tinggi sampai sangat tinggi disesuaikan dengankebutuhan pasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemeliharaan dapat dilakukan di kolam atau tambak air payau dan pengairan yang baik. Pergantian air dapat dilakukan sesering mungkin sesuai dengan tingkat kepadatan ikan. Volume air yang diganti setiap hari sebanyak 20% atau bahkan lebih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="EN-GB"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pada usaha intensif, benih ikan nita yang dipelihara harus tunggal dain jantan saja. Pakan yang diberikan juga harus bermutu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:180pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV"><span>§<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Ransum hariannya 3% dan berat biomassa ikan per hari. makanan sebaiknya berupa pelet yang berkadar protein 25-26%, lemak 6-8%. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan oleh teknisinya sendiri dapat diamati nafsu makan ikan-ikan itu. Pakan yang diberikan knya habis dalam waktu 5 menit. Jika pakan tidak habis dalam waktu 5 menit berarti ikan mendapat gangguan. Gangguan itu berupa serangan penyakit, perubahan kualitas air, udara panas, terlalu sering diberi pakan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">7. HAMA DAN PENYAKIT</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Hama</span>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Bebeasan       (Notonecta)<br />
Berbahaya bagi benih karena sengatannya. Pengendalian: menuangkan minyak       tanah ke permukaan air 500 cc/100 meter persegi. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Ucrit (Larva       cybister)<br />
Menjepit badan ikan dengan taringnya hingga robek. Pengendalian: sulit       diberantas; hindari bahan organik menumpuk di sekitar kolam. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Kodok<br />
Makan telur telur ikan. Pengendalian: sering membuang telur yang       mengapung; menagkap dan membuang hidup-hidup.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Ular<br />
Menyerang benih dan ikan kecil. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pengendalian: lakukan penangkapan; pemagaran kolam.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Lingsang<br />
Memakan ikan pada malam hari. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pengendalian:pasang jebakan berumpun.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Burung<br />
Memakan benih yang berwarna menyala seperti merah, kuning.<br />
Pengendalian: diberi penghalang bambu agar supaya sulit menerkam; diberi<br />
rumbai-rumbai atau tali penghalang.</span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penyakit</span>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penyakit pada kulit<br />
Gejala: pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh       berlendir.<br />
Pengendalian: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">direndam dalam larutan PK (kalium        permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 gram/10 liter air,        pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">direndam dalam        Negovon (kalium permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5 %. </span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Penyakit pada       insang<br />
Gejala: tutup insang bengkak, Lembar insang pucat/keputihan.<br />
</span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pengendalian: sama       dengan di atas.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penyakit pada organ dalam<br />
Gejala: perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit.<br />
Pengendalian: sama dengan di atas.</span></li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit dan hama pada budidaya ikan nila:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pengeringan dasar      kolam secara teratur setiap selesai panen.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pemeliharaan ikan      yang benar-benar bebas penyakit.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Hindari penebaran      ikan secara berlebihan melebihi kapasitas.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Sistem pemasukan      air yang ideal adalah paralel, tiap kolam diberi satu pintu pemasukan air.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Pemberian pakan      cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Penanganan saat      panen atau pemindahan benih hendaknya dilakukan secara hati-hati dan      benar.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Binatang seperti      burung, siput, ikan seribu (lebistus reticulatus peters) sebagai pembawa      penyakit jangan dibiarkan masuk ke areal perkolaman.</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">8. PANEN</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pemanenan ikan nila dapat dilakukan dengan cara: panen total dan panen sebagian.</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Panen total<br />
Panen total dilakukan dengan cara mengeringkan kolam, hingga ketinggian      air tinggal 10 cm. Petak pemanenan/petak penangkapan dibuat seluas 1 m      persegi di depan pintu pengeluaran (monnik), sehingga memudahkan dalam      penangkapan ikan. Pemanenan dilakukan pagi hari saat keadaan tidak panas      dengan menggunakan waring atau scoopnet yang halus. Lakukan pemanenan      secepatnya dan hati-hati untuk menghindari lukanya ikan. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Panen sebagian atau panen selektif<br />
Panen selektif dilakukan tanpa pengeringan kolam, ikan yang akan dipanen      dipilih dengan ukuran tertentu. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan      waring yang di atasnya telah ditaburi umpan (dedak). Ikan yang tidak      terpilih (biasanya terluka akibat jaring), sebelum dikembalikan ke kolam      sebaiknya dipisahkan dan diberi obat dengan larutan malachite green      0,5-1,0 ppm selama 1 jam.</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">9. PASCAPANEN</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penanganan pascapanen ikan nila dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penanganan ikan hidup<br />
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam      keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke      konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Dalam pengangkutan gunakan air yang       bersuhu rendah sekitar 20 derajat C.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Waktu pengangkutan       hendaknya pada pagi hari atau sore hari.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Jumlah kepadatan       ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.</span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Penanganan ikan      segar<br />
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Hal yang perlu diperhatikan untuk      mempertahankan kesegaran antara lain:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Penangkapan harus dilakukan       hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sebelum dikemas, ikan harus dicuci       agar bersih dan lendir.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Wadah pengangkut       harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam       perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan<br />
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan       seng atau fiberglass. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kapasitas       kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Ikan diletakkan di dalam wadah yang       diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.<br />
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan       jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian<br />
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan       es lagi dan seterusnya. </span><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Antara ikan dengan dinding kotak diberi es,       demikian<br />
juga antara ikan dengan penutup kotak. </span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Sedangkan hal-hal      yang perlu diperhatikan dalam pananganan benih adalah sebagai berikut:</span>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Benih ikan harus       dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan tidak cacat.       Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong<br />
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka). </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Air yang dipakai       media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan penyakit serta       bahan organik lainya. </span><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sebagai       contoh dapat digunakan<br />
air sumur yang telah diaerasi semalam. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sebelum diangkut benih ikan harus       diberok dahulu selama beberapa hari. Gunakan tempat pemberokan berupa bak       yang berisi air bersih dan<br />
dengan aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x       1 m atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan<br />
dapat menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5       cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran       benihnya. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Berdasarkan lama/jarak pengiriman,       sistem pengangkutan benih terbagi menjadi dua bagian, yaitu:</span>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem terbuka<br />
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak memerlukan        waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap keramba dapat        diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar 5000 ekor        benih ukuran 3-5 cm. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sistem tertutup<br />
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu        lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media<br />
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer        Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang diangkut        dengan kantong plastik: </span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">masukkan air         bersih ke dalam kantong plastik kemudian benih; </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">hilangkan udara dengan menekan         kantong plastik ke permukaan air; </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">alirkan oksigen dari tabung         dialirkan ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga         (air:oksigen=1:2); </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">kantong plastik lalu diikat. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">kantong plastik dimasukkan ke         dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos yang berukuran         panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat diisi 2 buah         kantong plastik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih         sampai di tempat tujuan<br />
adalah sebagai berikut: </span></p>
<ul type="square">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Siapkan larutan          tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam 10 liter          air bersih).</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Buka kantong          plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam setempat sedikit          demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik terjadi          perlahan-lahan.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pindahkan benih          ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1- 2 menit.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Masukan benih          ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan benih ikan diberi          pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan dengan tetrasiklin          25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat juga          digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin          sebanyak 4% selama 3-5 menit. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Setelah 1          minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya. </span></li>
</ul>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Analisa Usaha Budidaya<br />
Perkiraan analisis usaha budidaya ikan nila selama 1 bulan pada tahun 1999      di daerah Jawa Barat adalah sebagai berikut:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Biaya produksi</span>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sewa kolam Rp. 120.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Benih ikan nila        4000 ekor, @ Rp.200,- Rp. 800.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Pakan</span>
<ul type="square">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Dedak 8 karung @ Rp.800,- Rp.         6.400,- </span></li>
</ul>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Obat dan pupuk</span>
<ul type="square">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Kotoran ayam 4         karung, @ Rp.7.000,- Rp. 28.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="ES">Urea dan TSP 10         kg, @ Rp.1.800,- Rp. 18.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Kapur 30 kg, @ Rp. 1.200,- Rp.         36.000,- </span></li>
</ul>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Peralatan Rp. 100.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Tenaga kerja 1        orang @ Rp. 7500,- Rp. 225.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Biaya tak terduga        10% Rp. 133.340,-<br />
Jumlah biaya produksi Rp.1.466.740,- </span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Pendapatan benih       ikan 85%,4000 ekor @ Rp.700,- Rp.2.380.000,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Keuntungan Rp. 913.260,- </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Parameter       kelayakan usaha : B/C ratio 1,62</span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Gambaran Peluang Agribisnis<br />
Dengan adanya luas perairan umum di Indonesia      yang terdiri dari sungai, rawa, danau alam dan buatan seluas hampir      mendekati 13 juta ha merupakan potensi alam yang sangat baik bagi      pengembangan usaha perikanan di Indonesia. Disamping itu      banyak potensi pendukung lainnya yang dilaksanakan oleh<br />
pemerintah dan swasta dalam hal permodalan, program penelitian dalam hal      pembenihan, penanganan penyakit dan hama      dan penanganan pasca panen,<br />
penanganan budidaya serta adanya kemudahan dalam hal periizinan import.      Walaupun permintaan di tingkal pasaran lokal akan ikan nila dan ikan air      tawar<br />
lainnya selalu mengalami pasang surut, namun dilihat dari jumlah hasil      penjualan secara rata-rata selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.      Apabila pasaran lokal ikan nila mengalami kelesuan, maka akan sangat      berpengaruh terhadap harga jual baik di tingkat petani maupun di tingkat      grosir di pasar ikan. Selain itu penjualan benih ikan nila boleh dikatakan      hampir tak ada masalah, prospeknya cukup baik. Selain adanya potensi      pendukung dan faktor permintaan komoditi perikanan untuk pasaran lokal,      maka sektor perikanan merupakan salah satu peluang usaha bisnis yang      cerah. </span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">11. DAFTAR PUSTAKA</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB">Sugiarto Ir, 1988, Teknik Pembenihan      Ikan Mujair dan Nila. Penerbit CV. Simplex (Anggota IKAPI)”.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-family:Arial;" lang="IT">Rahardi, F. 1993.      Kristiawati, Regina. Nazaruddin. </span><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Agribisnis Perikanan, Penerbit Swadaya,      Jakarta.</span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">12. KONTAK HUBUNGAN</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="FI">Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS;<br />
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="SV">Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bapp</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Arial;" lang="IT"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial;" lang="EN-GB"><br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tghnul.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tghnul.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tghnul.wordpress.com&amp;blog=5854880&amp;post=5&amp;subd=tghnul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/18/budidaya-ikan-nila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/50df6c0442206a4922b51a21cc63c537?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tghnul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/15/hello-world/</link>
		<comments>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/15/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 07:39:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tghnul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tghnul.wordpress.com&amp;blog=5854880&amp;post=1&amp;subd=tghnul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/tghnul.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/tghnul.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=tghnul.wordpress.com&amp;blog=5854880&amp;post=1&amp;subd=tghnul&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tghnul.wordpress.com/2008/12/15/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/50df6c0442206a4922b51a21cc63c537?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">tghnul</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
